Saturday, April 28, 2012

Wisata Tambak Buntu

Tambak Buntu merupakan obyek wisata Peninggalan Belanda yang terdapat di desa Purworejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. menurut Pak Nardi warga setempat, obyek wisata Tambak Buntu ini adalah peninggalan Belanda yang berupa sumber air. Sekarang Tambak Buntu ini di fungsikan sebagai sumber air yang di kelola oleh PDAM untuk memenuhi kebutuhan air minum di daera Juwana, Bakaran dan sekitarnya. Air ini disalurkan melalui pipa peninggalan Belanda yang telah tanam dalam tanah, PDAM ini semula menggunakan tenaga mesin diesel dan sekarang menggunakan tenaga listrik. Tambak Buntu di jaga oleh dua orang petugas PDAM yang bertugas untuk mengawasi dan mengontrol pompa air yang di gunakan. Dan menurut petugas yang bertugas di Tambak Buntu, mereka secara bergantian menjaga Tambak Buntu dalam sebulan sekali. Tambak Buntu yang merupakan obyek wisata yang ramai di kunjungi pada beberapa tahun yang lalu sekarang mulai sepi pengunjung. Para wisatawan biasanya bermain-main air di sumber air ini (jeburan) atau menikmati keindahan dan kesejukan alam yang ada disini.

Thursday, April 26, 2012

Secuil kisah dari desa kecil kajen margoyoso pati

Syaikh Ahmad Mutamakkin adalah seorang tokoh lokal yang menjadi cikal bakal dan nenek moyang orang kajen dan sekitarnya, yang kelak kemudian hari menjadi motivator dan inspirasi berdirinya pondok pesantren yang sekarang menjadi ciri khas desa tersebut. Syech Mutamakkin bagi masyarakat di wilayah Pati diyakini sebagai seorang Waliyullah yang memiliki kemampuan linuih baik dalam bidang spiritual ( keilmuan tentang Islam ) maupun supranatural ( karomah ). Beliau dilahirkan di Desa Cebolek, 10 Km dari kota Tuban, karenanya beliau di kenal dengan sebutan Mbah bolek di daerahnya. Sedangkan nama al-Mutamakkin merupakan nama gelar yang didapatkan sepulang menuntut ilmu di Timur Tengah, yang berarti orang yang meneguhkan hati atau diyakini akan kesuciannya. Lazimnya orang yang hidup pada zaman dahulu, Mutamakkin muda mengembara untuk memenuhi hasrat keinginannya, suatu ketika sampailah pada sebuah tempat, tepatnya di sebelah utara timur laut Desa kajen sekarang, sebagaimana yang menjadi kebiasaan para pengembara pada waktu itu untuk menngembalikan suasana daerah asalnya sekaligus untuk memudahkan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, diberilah nama daerah itu dengan “cebolek” seperti desa kelahiran beliau. Di Desa barunya ini Syaikh Ahmad Mutamakkin sempat bermukim beberapa saat sampai suatu ketika ada kejadian mistik yang memberikan isyarat kepada beliau untuk menuju ke arah barat, kejadian itu beliau alami setelah menunaikan sholat isya’ dengan melihat cahaya yang terang berkilauan di arah barat, bagi mbah Mutamakkin hal ini merupakan isyarat, dan pada esok harinya beliau menghampiri tempat dimana cahaya pada malam hari itu mengarah. Disana beliau bertemu dengan seorang laki-laki tua yang dalam cerita lokal diyakini sebagai orang pertama kajen yang bernama Mbah Syamsuddin. Dalam pertemuan itu terjadi sebuah dialog yang didalamnya ada penyerahan wilayah kajen dari Mbah Syamsuddin kepada Mbah Mutamakkin untuk merawat dan mengelolanya. Makam mbah syamsuddin berada disebelah barat makam Mbah Mutamakkin tepatnya di sebelah arah selatan kolam/ blumbang, yang sampai sekarang sering digunakan para santri untuk riyadloh dan menghafalkan al-qur’an. Setiap hari makam Mbah Mutamakkin di kunjungi para peziarah dari Kajen dan sekitarnya, bahkan juga dari luar kota Pati. Satu persatu mulai memasuki pekarangan berukuran 6×14 meter yang lebih tampak seperti bangunan masjid itu. Setelah sebelumnya mengambil air wudlu di tempat yang tersedia, para peziarah segera mengambil kitab Alquran, mulai duduk hikmad, secara lirih melantunkan bacaan ayat demi ayat sampai rampung. Tapi, tidak sedikit pula yang benar-benar menghabiskan satu hari satu malam untuk bertafakkur, ngaji, dan bertawassul di tempat itu. Pemandangan seperti ini memang biasa disaksikan di pesarean Mutamakkin atau mungkin juga di tempat-tempat lain yang dianggap memiliki sejarah dan nilai karomah tertentu. Datang silih berganti, laki-laki dan perempuan yang mengaku dari berbagai pelosok Pati dan sekitarnya itu memang sengaja menyempatkan diri sowan, ziarah, kirim doa, atau bermunajat di hadapan makam Mbah Mutamakkin. Biasanya, para peziarah mulai berdatangan pada Kamis siang dan berakhir pada Jum’at sore. Meskipun makam tersebut disinyalir sudah berumur +200 tahun, tetapi sawaban, keramat, dan pesona kesucian yang terpancar dari sosok Ahmad Mutamakkin masih dirasakan sampai sekarang. Bahkan, makam yang berdekatan dengan Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang dulu dipimpin oleh KH Sahal Mahfudz itu pun dijadikan oleh para santri (laki-laki) sebagai tempat untuk berkhalwat, nyepi, dan menghafal Alquran. Selain makam, tempat lain yang juga dijadikan tempat perenungan dan berkhalwat adalah Masjid Ahmad Mutamakkin, 100 m ke arah timur dari makam beliau. Masjid kuno –konon usianya + 250 tahun- yang saat ini lebih masyhur disebut dengan masjid Jami’ Kajen, ini juga menjadi tempat bertujunya para peziarah dari berbagai tempat. Di dalam masjid terdapat beberapa bagian bangunan seperti mimbar, dairoh (langit-langit dalam masjid), papan bersurat di samping tempat pengimaman shalat, dan palang pintu masjid yang diyakini hasil kreasi Mbah Mutamakkin. Dan beberapa kreasi Mbah Mutamakkin itu banyak dimaknai orang sebagai karya yang memiliki nilai filosofis yang tinggi. Misalnya, di mimbar terdapat ornamen, ukir-ukiran dengan salah satunya bentuknya adalah bulan sabit yang dipatuk burung bangau. Motif ini dimaknai sebagai semangat dan doa Mutamakkin terhadap keturunannya (termasuk keturunan simbolis/penerus perjuangannya) akan bisa mencapai cita-cita mulia. Lalu terdapat ukiran bunga yang tumbuh dari tunas sampai mekar yang juga diyakini masyarakat sekitar sebagai doa pencapaian khusnul khatimah bagi keturunannya, sebagaimana terdapat dalam papan bersurat “sing penditku ngusap jidatku”, yang termasuk keturunanku, mengusap jidatku. Di samping itu, masih terdapat sumur yang juga diyakini sebagai sumurnya Mutamakkin. Sumur ini terletak sekitar 2 km sebelah timur dari Kajen, tepatnya masuk ke dalam desa Bulumanis. Sumur ini tidak pernah kering dan masyarakat sekitar sangat yakin bahwa air sumur tersebut bisa mengobati beberapa penyakit. Di Kajen sendiri terdapat sekitar 35 pondok pesantren dan 4 madrasah, tempat-tempat inilah yang telah membuat ratusan bahkan ribuan orang datang ke Kajen setiap tahun untuk mencari ilmu dan mondok. Apalagi, setiap tahun pada tanggal 10 Suro (Muharram) makam Mbah Mutamakkin bisa dipastikan penuh dengan ribuan peziarah karena tanggal ini telah ditetapkan sebagai haul (peringatan tahunan) Mbah Mutamakkin. Salah satu fenomena menarik yang selalu menjadi rutinitas ritual haul adalah adanya momen khusus dimana kain putih penutup makam Mutamakkin dilelang secara umum. Keseluruhan kain yang diyakini mengandung kekuatan magis ini pernah dijual sampai menghasilkan uang sebanyak 70 juta rupiah. Ada juga khataman bin nadhor dan bil ghoib, pengajian, kemudian ditutup dengan karnaval dan aksi marching band dari beberapa madrasah di Kajen dan sekitarnya. Banyak para pengunjung dari luar Kajen berbondong-bondong untuk memperingati khoul Mbah Mutamakkin. Salah satunya yang ikut merayakan karnaval adalah marching band dari Perguruan Islam Mathali’ul Falah. Yang menpunyai daya tarik sendiri hingga mengundang penonton untuk berjubel di halaman madrasah dan bahkan sampai di teras lantai dua dan tiga. Lepas dari hiruk-pikuk peringatan 10 suro, memang satu hal yang bisa dibaca dari efek khaul seperti itu adalah penciptaan kontinuitas pesona mitis yang diharapkan akan selalu diingat oleh siapa pun yang datang ke pesarean Mutamakkin. Haul dikonstruksi sedemikain rupa –entah sadar atau tidak- bertujuan untuk menghadirkan daya linuwih yang dimiliki oleh tokoh yang sudah meninggal sekaligus untuk melegitimasi kekuasaan para keturunannya. Dalam konteks ini, fenomena jubelan ratusan bahkan ribuan orang itu mungkin terjadi karena masyarakat melihat adanya sesuatu yang masih patut dipuja sebagai panutan yang memiliki kelebihan, karomah, dan berkah. Wallahua’lam…

Tuesday, April 24, 2012

Pantai Wisata Banyutowo Dukuhseti

Banyutowo adalah sebuah desa di kecamatan Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Banyutowo adalah desa pesisir dan memiliki sebuah dermaga yang merupakan tempat transit bagi kapal-kapal nelayan setempat maupun kapal dari daerah lain. Selain itu, dermaga di Banyutowo merupakan tempat rekreasi penduduk sekitar khususnya pada hari Minggu pagi maupun hari libur. Dermaga di Banyutowo Penduduk desa ini mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan, petani tambak, dan pedagang ikan. Di desa ini juga terdapat pasar ikan sebagai tempat untuk mendistribusikan hasil tangkapan ikan penduduk setempat. Penduduk lokal berekreasi melihat matahari terbit di dermaga Banyutowo Mayoritas penduduk beragama kristen, dan islam. Di desa ini terdapat 2 gereja Bhethany indonesia banyutowo dan Gitj banyutowo dan 1 masjid al muhajirin. Meski demikian, toleransi antar umat beragama dapat dijaga dengan baik. Selain warga setempat juga banyak wrga pendatang dari palang tuban, demak, dan indramayu. Pendidikan di banyutowo ialah paut tk.periwi sd banyutowo dan mi banyutowo, banyak pemuda banyutowo yang belajar di luar kota untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Industri kecil yang mengolah ikan laut atau ikan asin juga terdapat di sana diantaranya ud.jmb. jayamakmur bangkit milik H.arif, ud.bm. berkat mengalir milik bp.pramono, ud.sts. santoso milik H.karmain, ud.swn. madu ikan milik bp.suwono, ud.nhs milik H.tris, ud.75junior milik hj.lilik, ud.bunga laut milik ibu darsilah. Tambak -tambak di sana dipergunakan untuk memelihara ikan bandeng atau udang.

Monday, April 23, 2012

Pulau seprapat juwana

Satu lagi tempat yang kerap menjadi ritual para pencari pesugihan di jawa tengah. Pesugihan monyet putih menjadi salah satu cerita misteri yang akrab dikaitkan dengan Sungai Silunggonggo Pati Jawa Tengah. Di ujung muara sungai tersebut terdapat sebuah hamparan tanah sebagaimana pulau kecil di tengah laut, pulau itu kerap disebut sebagai pulau Seprapat oleh masyarakat sekitar. Tak jelas bagaimana asal usul dan sejarah kisah mistis yang terjadi di tempat tersebut namun pada kenyataannya wilayah ini sangat terkenal sebagai tempat ritual pesugihan. pesugihan-monyet-putih Nama Pulau Seprapat mungkin diberikan pada pulau di muara sungai Silunggonggo ini karena menyerupai pulau berukuran kecil yakni sekitar 6500 meter persegi. Di pulau kecil itu pula cerita misteri yang melegenda tentang makam tua yang konon di dalamnya terdapat jasat Ki Lodang, seorang pemuka agama yang dulunya terkenal sangat sakti mandraguna. Tak mempan senjata tanjam dan memiliki berbagai macam linuwih serta kesaktian. Keberadaan makam ini pula mungkin yang membuat tempat ini kerap dijadikan sebagai tempat mencari pesugihan monyet putih oleh orang-orang yang sesat dan lemah iman. Sebagaimana dengan tempat-tempat pemakaman tua lainnya di sini juga terdapat seorang juru kunci yang konon menjadi petunjuk sekaligus pemandu dalam menemukan pulau Seprapat sekaligus melaukan ritual pesugihan.
Tak jelas bagaimana ritual yang dilakukan di tempat tersebut, yang jelas beredar kabar bahwa oknum para pelaku pesugihan konon harus memberikan tumbul manusia biasanya anggota keluarga untuk dijadikan budak para penghuni gaib di Pulau Seprapat, hebohnya lagi tumbal pesugihan tersebut akan menjelma sebagai seekor kera berwarna putih. Lebih lanjut tentang cerita yang melegenda di masyarakat, para pelaku pesugihan setelah meninggal nantinya juga akan dijadikan sebagai budak para makhluk gaib di Pulau Seprapat. Karena itu pula mungkin laku pesugihan di tempat ini disebut sebagai pesugihan monyet putih dan kerap menjadi perbincangan masyarakat jawa tengah dan pati pada khususnya.

Saturday, April 21, 2012

Pelestarian menanam Mangrove di pantai bulumanis

Mengantisipasi abrasi atau pengikikisan pantai, Kodim 0718/Pati bersama Kumpulan Anak Asli Pati (KAAP) melakukan penanaman bibit bakau (mangrove) serentak. Penanaman dilakukan di Pantai turut Desa Bulumanis Kecamatan Margoyoso, Minggu (25/12). Penanaman pohon mangrove jenis apesinia dan isopora melibatkan 250 orang dari unsur TNI dan masyarakat. 6.500 pohon ditanam serentak, pagi itu. Komandan Kodim (Dandim) 0718/Pati, Letkol. Inf. Andri Amijaya Kusuma, S.Sos yang turut hadir, mengapresiasi kegiatan KAAP dan beberapa organisasi lainnya, yang merupakan moment bagus untuk dikembangkan bagi siapapun. “Atensi ini merupakan yang luar biasa terhadap lingkungan. Dan juga merupakan pemahaman yang patut dibanggakan, karena kalau tidak ada kepedulian dari kita semua terhadap abrasi pantai siapa lagi yang bisa kita harapkan. Kecuali kesadaran dari Diri kita sendiri,” katanya. Sebagai Komandan Kodim 0718/Pati, Letkol. Inf. Andri Amijaya Kusuma, S.Sos berharap, kepada para pemuda, khususnya yang memiliki kepedulian lingkungan, agar Guyub Rukun membangun daerahnya. “Contoh pola berkarakter manusia mencintai lingkungan yang nantinya sangat berguna bagi sesama makhluk,” harap Dandim.